Sabtu, 06 Juni 2015

Berharap Cinta

Bedug Magrib hampir tiba, namun tak seperti biasanya syadad tidak segera bergegas kemesjid. Terlihat enggan melangkah. Rasa malas menyelimuti hati yang gundah. Pikirannya terpatri pada seorang wanita berkerudung biru. Wanita itu bernama Siti Sholehah. Wanita yang selalu di tunggu lewat depan rumahnya. Namun kini wanita itu tak kelihatan.

"Em..kenapa dia tidak lewat." Batinnya berkata.

Bedug magrib pun terdengar petanda waktu magrib telah tiba. Syadad segera berjalan cepat menuju masjid tidak jauh dari rumahnya. Lamunannya masih penuh harap. Mungkin setelah ba'da magrib Ia akan coba memberanikan diri untuk kerumah Siti Sholeha walaupun dengan alasan yang akan di buat-buat. Itulah cinta harus butuh pengorbanan.

Jumat, 15 Mei 2015

Misteri Rumah Gubug

Jelang malam aku bersama dua sahabatku berlari kecil untuk menghindar guyuran hujan. Berteduh di salah satu rumah warga. Rumah itu terbuat dari anyaman bambu. Sangat natural rumah terbuat dari anyaman bambu, walau kesan kumuh dan tertinggal, tapi aku rasa sangat indah untuk di rasakan.

Kamis, 07 Mei 2015

Curhat Seorang Teman

Bulan separuh cukup indah ku lihat. Warnanya kuning ke merah-merahan. Terkadang tampak redup akibat terpapas awan hitam menggulung kecil. Malam memang tidak secerah malam kemarin. Malam aku rasakan sangat sunyi mencekam. Hanya suara binatang malam mendendangkan nyanyian malam menambah suasana begitu membangunkan bulu roma. Pukul hampir 23.00 malam. Tak terasa aku memandang keindahan bulan terpesona sehingga larut malam tiba. Mataku sudah mulai mengantuk. Berat rasanya untuk terus menatap rembulan. Aku suka dengan keindahannya, namun mataku tak mau kompromi, aku pun beranjak tidur.

Rabu, 09 April 2014

MAUT

Aku adalah gadis yang manja. Ririn namaku. Sehari-hari ku selalu bergelut dengan buku. Banyak buku-buku novel kesukaan ku. Lemari buku yang penuh sesak dengan koleksi buku-buku ku. Ya itu lah aku sang kutu buku.

Senin, 07 April 2014

Udin Menerangkan Fikih Jihad

Pagi pun menyambut dengan cepatnya. Matahari mulai menunjukan wajahnya Adul pun seperti biasa selepas sholat subuh menuju ruang keluarga, dan mulai mengutak-atik remot tv nya. Acara yang Adul suka Program ceramah di salah atu staiu tv yang Ustadz nya mempunyai khas Jema'ah....Namun Adul terjebak di acara berita terkini alias berita pagi. "Berita apa yah hari ini yang terbaru" Kata Adul smbil bangun untuk membuat kopi dulu. Dengan kesukaan nya yang sering meminum kopi gak ada jadwalnya. Di lihatnya berita dengan khusyu nya. Namun Adul menggerutu dalam hati "Paling berita perang" celetuk Adul dalam hatinya. Benar juga berita yang mengenai peperangan di timur tengah di Suryiah, Palestina, pembantaian Umat Muslim di Rohingya, dan perang agama di Afrika, semua di sajikan dengan gamblangnya. Adul merasa miris di dalam hatinya, seraya berdoa "Ya Allah jagalah agamamu, berikan kekuatan kepada kaum Muslim yang di landa peperangan" Doa Adul di dalam hatinya sambil menghirup kopi yang punya rasa kapal api. "Orang Islam ko demen banget perang yah?" Besit Adul.

Jumat, 04 April 2014

Kuntilanak Anak Dukun Beranak

Mak ijah adalah seorang dukun beranak yang terkenal di kampung babakan. Setiap wanita yang mau melahirkan selalu mak Ijah yang mengurusnya. Dari persalinan sampai merawatnya sampai sang pasien sembuh. Mak Ijah mempunyai anak perempuan bernama Sulastri. Mak Ijah sangat sayang pada anak perempuannya, sehari-hari Sulastri selalu di manjakan. Di usianya yang hampir dua puluh tahun, Sulastri belum mempunyai pendamping hidup. Di karenakan wajah Sulastri yang kurang menarik sehingga membuat lelaki segan untuk mendekatinya.

Malam itu Sulastri melamun di halaman rumah, duduk di bale yang sudah rapuk dan bolong-bolong, suasana rumah kampung sudah tidak aneh di depan rumah ada bale yang di khususkan untuk mengobrol.
Di dalam hati sulastri berkata.: "Kapan yah aku mendapatkan jodoh, padahal kawan-kawan seumuran ku sudah pada menikah hanya aku saja yang belum, uhuk uhuk uhuk" Keluh sulastri yang terus melamun kan nasibnya selamanya ini. Tidak sadar bahwa malam terus bergulir namun Sulastri masih saja duduk terpaku di depan rumahnya.